indahnya berbagi informasi

a. fathur

indahnya berbagi informasi - a. fathur

MENGENAL PEREKAMAN CITRA DIGITAL

Citra Digital

Citra Digital

Sebenarnya citra (foto) tergantung pada karakteristik dari obyek yang direkam dan kondisi variabel dari sistem perekamannya. Citra merupakan gambaran tentang karakteristik suatu obyek menurut kondisi variabel tertentu. Sebagai contoh, coba kita bandingkan hasil foto manusia dengan kamera / sensor optik dan dengan sensor sinar X (yangmerupakan kondisi variabel sistem berbeda). Juga coba kita perhatikan perbandingan hasil foto pemandangan di tepi laut dan di daerah pegunungan (karakteristik obyek berbeda).
Ada dua jenis sensor untuk mendapatkan rekaman citra yaitu sensor aktif dan sensor pasif. Sensor pasif adalah sistem sensor yang merekam data obyek tanpa mengirimkan enersi, sumber enersi bisa dalam bentuk sinar matahari, sinar lampu, dan lain sebagainya. Contohnya adalah sensor optik dari kamera foto, sensor optik pada sistem inderaja, sedangkan sensor aktif adalah sistem sensor yang merekam data obyek mengirimkan dan menerima pantulan dari enersi yang dikirim ke arah obyek, enersi yang dikirim bisa berupa gelombang pendek, sinar X, dan lain sebagainya. Contohnya adalah sensor Rontgen untuk foto thorax, sensor gelombang pendek pada sistem radar, sensor ultrasound pada sistem USG.
Citra digital (foto digital) sebenarnya adalah merupakan fungsi intensitas cahaya f(x,y), dimana harga x dan y merupakan koordinat spasial dan harga fungsi tersebut pada setiap titik (x,y) merupakan tingkat kecemerlangan citra pada titik tersebut. Foto digital adalah citra f(x,y) berupa diskritisasi koordinat spasial (sampling) dan diskritisasi tingkat kecemerlangannya/keabuan (kuantisasi), selain itu citra digital merupakan suatu matriks indeks baris dan kolomnya menyatakan suatu titik pada citra tersebut dan elemen matriksnya (yang disebut sebagai elemen gambar / piksel / pixel / picture element / pels) menyatakan tingkat keabuan pada titik tersebut
Baik tidaknya citra tergantung pada Resolusinya yang dikenal sebagai resolusi spasial dan resolusi kecemerlangan, selain itu juga resolusi ini sangat berpengaruh terhadap besarnya informasi citra yang hilang. Resolusi spasial yang memberikan gambaran kehalusan / kekasaranyanya pembagian kisi-kisi baris dan kolom. Transformasi citra kontinue ke citra dijital disebut dijitisasi (sampling). Hasil dijitisasi dengan jumlah baris 256 dan jumlah kolom 256 – resolusi spasial 256 x 256. Resolusi kecemerlangan atau yang dikenal dengan intensitas / brightness, juga menentukan halus / kasarnya pembagian tingkat kecemerlangan. Transformasi data analog yang bersifat kontinue ke daerah intensitas diskrit disebut kwantisasi. Bila intensitas piksel berkisar antara 0 dan 255 – resolusi kecemerlangan citra adalah 256.
Sampling Uniform mempunyai spasi (interval) baris dan kolom yang sama pada seluruh area sebuah citra, sementara itu sampling Non-uniform bersifat adaptif tergantung karakteristik citra dan bertujuan untuk menghindari adanya informasi yang hilang. Daerah citra yang mengandung detil yang tinggi di-sampling secara lebih halus, sedangkan daerah yang homogen dapat di-sampling lebih kasar. Kerugian sistem sampling Non-uniform adalah diperlukannya data ukuran spasi atau tanda batas akhir suatu spasi.
Kwantisasi Uniform mempunyai interval pengelompokan tingkat keabuan yang sama (misal: intensitas 1 s/d 10 diberi nilai 1, intensitas 11 s/d 20 diberi nilai 2, dstnya). Kuantisasi Non-uniform: Kuantisasi yang lebih halus diperlukan terutama pada bagian citra yang meng-gambarkan detil atau tekstur atau batas suatu wilayah obyek, dan kwantisasi yang lebih kasar diberlakukan pada wilayah yang sama pada bagian obyek. Kuantisasi Tapered: bila ada daerah tingkat keabuan yang sering muncul sebaiknya di-kwantisasi secara lebih halus dan diluar batas daerah tersebut dapat di-kwantisasi secara lebih kasar (local stretching)

Sumber: Edy Mulyanto, 2009,  FORMAT CITRA DIGITAL & HISTOGRAM. Semarang: UDINUS

Category: Uncategorized
css.php